Antara Adventure dan Eatventure yang Nggak Kalah Seru

Ini bukan kisah atau cerita, tapi inilah adanya, silakan dicerca eh dicerna.

 

Malam itu, yah malam itu, aku duduk di antara meja dan kacang rebus beraroma sendu. Kopi dan teh seakan memintaku meneguk bersama dan musik di kafe itu semakin malam semakin lantang membuat kopi dan teh beradu di antara tegukan dan cegukan yang diakhiri dengan batuk, uhuk. Kok kayak mau nulis puisi, ya, hehehe…

Nah, iya malam itu saya lagi meneguk kopi tanpa gula karena setiap penikmat kopi selalu bilang:………….. gitu, kan?! Dan pada malam itu juga saya bersama Mas Putra Rizky salah seorang yang bekerja di C2Live, Jakarta meminta saya dan Kang Arul, Founder Kelas Blogger untuk menyiapkan pasukan, (loh kok pasukan) maksudku mengajak teman-teman Kelas Blogger untuk menyaksikan dan menjadi saksi (duh, kayak mau akad aja) nanti tanggal 9-10 Mei 2018 di Bandung. Nah, saksi apa itu? Kok nggak dikasih tahu. wekawekaweka….

Kami (Kelas Blogger) diminta mengajak tiga puluh blogger untuk mengikuti beberapa acara seru yang menurut saya adalah jalan-jalan sembari makan-makan sampai puas. Dan benar, pada hari yang telah dinanti dan ditunggu tiba, (lanjut di bawah, ya…)

 

Ke Bandung Lagi…….! 

Rasanya, hampir tiap bulan bahkan tiap pekan ke bandung. 😀 

Pada malam itu, Selasa 8 Mei tepatnya satu hari sebelum berangkat ke Bandung, beberapa blogger membatalkan diri untuk ikut acara seru dan seru dengan beberapa alasan, dan saya hanya berkata, yasudahlah. Malam itu juga harus cari penggantinya dan syukur Alhamdulillah dapat meski dengan lelah, tapi tetap saja menyenangkan.

Coba bayangkan: demi acara seru dan keren ini beberapa blogger dari Kelas Blogger Jakarta rela begadang di salah satu tempat nongkrong di sekitar Cikini tak sabar menunggu hari esoknya. Saya pun tidak ikutan (harusnya ikutan ya, parah emang hahaha) begadang dengan teman-teman tapi nyusul pada dini hari tepatnya pukul 03.00 lebih dikitlah untuk bergabung dan siap-siap menyambut teman-teman blogger lainnya di Taman Ismail Marzuki, tempat yang saya tentukan sebagai titik temu. (bukan titik temu antara dua hati, ya :p).

Sebelum pagi benar-benar buta, saya pun meresapi dingin angin di antara lampu-lampu yang mulai redup. Desir dan desaunya benar-benar menusuk aroma tubuh yang mulai mengutuk malam. Lalu, subuh pun bergema di beberapa penjuru membuyarkan dingin angin yang tak ingin pergi dari tubuh ini. Aih, nyastra lagi….

Setengah enam lewat kami pun genap berkumpul dan menunggu mobil yang menjemput dan membawa ke Bandung. Kami, tiga belas blogger pagi itu mulai berbagi segala cerita tentang perjalanan paginya menuju TIM. Meski pagi telah pergi, sebagian masih larut dalam mimpi sepanjang jalan menuju Bandung.

Greko, yang menyambut kami dengan diam. :p

Tiba di Bandung kami disambut dengan semringah meski wajah-wajah kami masih dalam keadaan kucel bin kumal. Satu persatu bergantian cuci muka dan ganti baju batik sebagi Dress Code acara siang itu. Kami tiba di sebuah tempat yang di depannya bertebaran bunga-bunga indah tapi bukan untuk kami. (syedihnyaaaa). Greko nama tempat itu, sebagai singkatan dari The Green Kosambi atau sekarang dikenal dengan Greko Creative Hub.

Kami diajak santai-santai dan bertemu dengan teman-teman blogger Bandung yang kami undang sebagai pelengkap dari 30 orang di atas. Kami semakin ceria setelah bergabung dengan teman-teman karena keseruan semakin dekat. Dan benar. Siang itu, keseruan dimulai, yaitu: makan-makan sepuasnya di Pasar Pinuh yang terdapat di lantai 3. Pasar Pinuh merupakan Food Court yang menjadi salah satu destinasi jika berkunjung ke Greko ini. Di Pasar Pinuh, kita akan menemukan banyak hal, mulai dari makanan yang beragam, minuman, barangkali juga jodoh, loh?!

Kartu Juara Pasar Pinuh.

Yeah, di Pasar Pinuh itulah eatventure dimulai. Biasanya, kan saya melakukan adventure tapi siang itu diganti menjadi eatventure. Tentu paham, kan maksudnya. Nah, konsep Pasar Pinuh yang penuh dengan menu-menu yang bikin lidah langsung ngiler seperti Mie Kwantung Makassar, Se’i Sapi Kosambi, Nasi Goreng Rawon, Lontong Kikil, Martabak, dan Roti Tissue. Minumannya juga bikin ngiler, gimana nggak ngiler kalau makannya sebanyak itu, seperti Teh Tamarin, Es Pelangi, Es Pontianak, dan yang paling disenangin sama teman-teman adalah minuman Cap Badak. Kebayang, kan gimana puasnya makan siang itu. Makanya, kalau kalian ke Bandung jangan sampai lupa mampir dan harus nyobain ragam makanan yang ada di Pasar Pinuh.

Pasar Pinuh ada di lantai 3 di The Green Kosambi (Greko) di Somerset Asia Afrika, Jl. Ahmad Yani, No. 136, Bandung. Kamu dan kamu harus ke sana kalau pas lagi di Bandung. Beneran rugi kalau nggak nyempatin diri ke sana karena selain ada Pasar Pinuh ada juga Jeanologia yang membuat pakaian dan fashion kamu sesuai selera.

Tanpa terasa, siang beranjak tanpa berjejak dan sore menunggu dengan segala kegelisahannya. Kami pun diantar ke tempat kami menginap, sedang teman-teman blogger dari Bandung kembali ke rumahnya masing-masing. Sore pun mengantar kami pada malam yang seakan lelah melihat kelelahan kami, tapi kami tidak lelah sebab setengah potong ayam goreng yang disajikan dilahap habis tanpa sisa, hahahaha….

Malam itu, ada yang bercanda dengan hening dan keheningan, ada yang berbisik dengan rasa dan perasaan yang sumbang. Ada juga yang menikmati sendunya malam dengan kasih dan kekasihnya di atas ranjang sunyi dan kesunyian. Apa, sih?! :p Dan pagi pun menunggu kami jamah dengan rasa riang. Kami pun beranjak mengempas segala lelah sebab keseruan kemarin belum tuntas kami rasakan.

Kamis, 10 Mei 2018 pukul setengah 10 pagi kami dijemput kembali dan dibawa ke tempat kemarin, yaitu The Green Kosambi alias Greko. Nah, hari itu kami menyaksikan Fashion Show rancangan Itang Yunas dan Lotta Aleksandrovna Senk atau lebih dikenal dengan sapaan Senk Lotta menjadi salah seorang peraganya. Wuh… pada acara itu ramai dan seru banget. Saking serunya kami nggak sadar bahwa siang telah diam-diam merenggut pagi. Kami pun menyapa Itang Yunas dari dekat, dekat sekali dan berfoto bersama dengannya.

Ini difotoin sama Kang Ali. 🙂

Lalu, apa yang terjadi setelah itu? Ke Pasar Pinuh lagi kami kembali, yeah! Benar-benar eatventure, kan. Di Pasar Pinuh kami kembali berbaur dengan ramai dan keramaian yang bercampur haru, cailah…. Yapz, kami dihidangkan makanan-makanan enak bin lezat lagi siang itu. Betapa tidak, kami sampai sore di Pasar Pinuh tidak hanya disajikan makanan tapi juga Live Music yang menggema. Seperti biasa, kalau ada mic nganggur saya selalu ingin menyoleknya, ih…. Dan benar, saya tak tahan untuk tidak menyumbang lagu meski sumbang yang penting: bernyanyiiiiii……

Selesailah keseruan sore itu. Kami pun berpamitan pada pihak Greko dan C2Live juga teman-teman blogger Bandung yang dikomando Kang Ali Muakhir. Eh, tidak lupa pada Mas Putra Rizky yang mengundang dan menemani keseruan selama di Bandung. Dan, sore itu kami kembali ke Jakarta, dengan senja yang menyala di antara perjalanan pulang dan sore yang riang.

Sore itu…..

Selesai!

Iklan

Kesaksian Sore

Aku menulis tentang anggur
Pada sebuah angin sore
Dibawanya pada kursi kosong
Yang tengah meringkuk dingin
Dan kedinginan

Di seberang jalan,
Aku melihatmu menggenggam kenangan
Mengelus dan membuangnya
Pada botol yang kau lempar jauh
Terbawa rindu yang tak lagi peduli
Pada racau bibirmu yang manis

Aku melihat kau menyeberangi jalan itu
Meneguk anggur yang kutulis
Lalu kau memintaku meneguk bibirmu
Dan bertanya:
“Kau tak rela?”

Aku hanya menatap gumpalan dahaga
Yang meletup di antara desau dadamu
Sedang kau,
Memintaku mereguknya.

Lalu, sore itu berlalu
Membuang waktu dan rindu
Sebab kau masih berdiri
Menunggu bibirmu kuteguk.

Jakarta, 290118

Perihal Januari

Ia mendatangimu pada pagi yang biasa
Membawa aroma embun
Menggenggam bias matahari

Di bawah dingin angin
Kau bersenda dengan rindu
Dan daun-daun kering
Yang menunggu musim tiba
Dan kamu memungutnya

Pada pagi itu
Antara hujan dan kemarau
Menjadi pertemuan pagi dan siang
Dan Januari yang meriang
Sebab kamu memanah matahari
Lewat busur matamu.

Lalu, ia mendatangimu kembali
Pada Januari yang tak lagi sama
Membawa cerita tentang senja
Yang terseret musim Desember
Dan tertidur pada pagi yang sepi.

Januari kali ini
Ia datang kembali
Menagih rindu yang pernah lelap
Di matamu.

Jakarta, 120118

Perempuan yang Bermain Biola (2)

Diella Senja 

Baiklah, aku memutuskan untuk pergi ke Bandung. Demi mewujudkan rasa dan perasaan penasaranku pada sebuah pertemuan yang semua orang anggap hanya khayalan. Khayalan tentang seorang perempuan yang tengah bermain biola di suatu kafe di Jakarta tempo lalu. Aku akan buktikan pada orang-orang yang mencibirku dan mengatakan aku gila di kafe waktu itu. Bahwa, perempuan itu ada dan benar-benar ada. Buktinya, beberapa hari lalu, iya beberapa hari lalu aku melihat perempuan itu dengan biolanya sedang diwawancarai di sebuah televisi, ia akan menggelar konser tunggal di Bandung, katanya. Dan kamu tahu? Ia punya nama yang manis, seperti orangnya. Diella. Yah, Diella namanya. Aku menambahnya menjadi Diella Senja.

***

Pagi ini adalah pagi yang tak biasa. Sebeb, sebelum matahari merenggut pagi, aku sudah duduk santai di kursi panjang tempat biasa aku memotret lalu-lalang kehidupan. Kursi yang selalu menjadi tandu bagi setiap orang yang tengah menunggu rindu menjemputnya. Stasiun. Pagi itu aku duduk di kursi panjang di tepi rel di stasiun Gambir. Aku bertekad pergi ke Bandung demi memastikan dan bertemu dengan perempuan yang pernah kukejar di kafe malam itu.

Malam itu, aku duduk di sebuah kafe dengan buku dan kopi. Tiba-tiba dari panggung terdengar bunyi musik yang paling khas dan sangat aku suka, yaitu biola. Perempuan itu manis sekali. Seperti bunyi yang keluar dari biola yang dimainkannya. Beberapa malam aku melihat dan menyaksikan perempuan manis itu. Hingga malam-malam berikutnya, aku pun tak melewati malam tanpa menunggu perempuan di kafe itu. Perempuan yang pernah kuberi nama Senja, sebelum aku tahu nama sebenarnya.

Aku masih duduk melampaui khayalan di kursi itu. Matahari masih membendung mimpinya di pelukan pagi yang buta. Dan kereta api KA Parahyangan (KA 20) tujuan Bandung sudah menunggu setiap penumpang di jalur tiga pagi ini. Aku beranjak sembari mengapit buku dan menggendong ranselku yang selalu menjadi teman perjalananku.

KA Parahyangan perlahan berlalu meninggalkan bayangan Jakarta di antara warna emas matahari pagi. Deru relnya seakan alunan lagu menyambut pagi lewat jendela kereta yang tersingkap tirainya. Aku menikmati bait demi bait bias matahari yang seakan mengeja setiap mimpi yang hinggap pada wajahku. Buku yang kukepit perlahan menjadi teman lusuh dengan setiap keangkuhan tiap babnya. Aku melahap perlahan setiap rentetan kata yang terdapat dalam buku itu.

***

Stasiun pertama telah berlalu tanpa matahari, sebab masih menunggu mata membuka dan membangunkannya. Perlahan aku ingat kembali wajah perempuan yang telah kuketahui namanya. Lewat sebuah wawancara singkat dan singkat juga aku lihat wajahnya di televisi, nama itu, hanya sebentar tayang dan aku langsung mencatatnya. Aku ingat kelihaiannya bermain biola malam itu. Wajahnya benar-benar manis. Tak salah jika waktu itu aku beri nama Senja. Sebab wajahnya manis seperti senja.

Matahari mulai memamerkan keangkuhannya saat kereta berhenti sejenak di stasiun Purwakarta. Aku sedikit menahan kantuk saat tiba di stasiun itu. Tetapi sekelebat aku melihat sosok perempuan lewat jendela kereta. Ia berjalan dengan jaket hitam panjang hingga lututnya di tepi rel. Sontak aku berdiri dan berlari ke pintu untuk melihat perempuan itu. Tubuhnya sama dengan perempuan yang aku lihat di kafe malam itu. Ia juga menenteng biola. Aku berlari ke pintu, melihat tempat perempuan berdiri tadi. Namun, aku hanya terbawa khayalan pagi itu. Di sana tidak ada siapa-siapa. Penumpang yang menunggu kereta telah naik semua. Aku hanya mengembuskan napas kosong dan kembali ke kursi tempatku duduk.

Di kursi itu, aku duduk kembali dan membuka buku yang kubawa. Aku tidak lagi bisa membaca buku itu. Pikiranku kacau karena peristiwa di stasiun tadi. Dari jendela, aku benar-benar melihat perempuan yang kutahu bernama Diella membawa biolanya. “Apa mungkin itu hanya khayalan?” pikirku. “ah, tidak. Aku benar-benar sadar saat aku melihat sosok itu tadi,” lanjutku dalam hati. Aku mencoba memejamkan mata, berharap bisa tidur tetapi tidak. Aku hanya berkhayal dan memikirkan perempuan itu. Aku yakin, nanti sore sebelum konser tunggalnya digelar, aku akan datang ke rumahnya. Aku sudah cari alamat rumahnya dan sudah kusimpan dalam catatanku.

“Diella, kamu benar-benar nyata,” gumam hatiku. Nanti akan aku foto lalu akan kembali ke kafe tempat melihat dan menyaksikanmu dulu. Akan kutunjukkan pada orang-orang di sana yang dulu mengatakan aku gila. Akan kukatakan pada meraka bahwa kamu benar-benar ada dan benar-benar manis, Diella.

Aku duduk memandangi keindahan kota Bandung yang mulai terlihat perlahan. Sebentar lagi aku akan tiba di kotamu, Diella. Hatiku tak henti-hentinya bergumam. Terkadang aku tersenyum sendiri sembari memandang ke luar jendela. Aku membayangkan alisnya yang sabit, bibirnya yang ranum, dan wajahnya yang manis. Semua aku lihat dan bayangkan sejak pertama melihat dirimu di kafe.

Bayangannya perlahan pudar saat KA Parahyangan yang aku naiki tiba di stasiun Bandung. Penumpang perlahan turun dan aku masih duduk dan berkhayal di kursiku. Dalam khayal aku melihat seorang perempuan membawa biola turun dari kereta lalu menoleh sebentar dan pergi. Aku kaget saat petugas kereta membuyarkan khayalanku dan memberi tahu bahwa beberapa saat lagi kereta akan dibersihkan. Aku beranjak perlahan dan mengapit bukuku juga ransel yang tak pernah lupa kubawa. Aku berjalan gontai menyusuri tepi rel di stasiun itu. Hari masih pagi. Matahari baru saja mengeringkan embun yang bersemadi di antara daun-daun basah dan kering. Aku menghela napas panjang dan keluar dari stasiun. Sejenak, aku melihat sosok Diella berjalan di seberang jalan dengan biolanya. Sontak aku berlari menyeberangi jalan mengejar sosok itu. Tapi, lagi-lagi aku tak dapat mengejarnya. Aku bertanya pada beberapa orang di pinggir jalan itu, tapi orang-orang menjawab tidak tahu dan tidak melihat sosok perempuan itu.

Aku berjalan menyusuri trotoar bisu. Menyeberangi jembatan dan duduk di kursi di pinggir jalan ketika lelah. Aku sedikit asing dengan kota ini, sebab aku hanya beberapa kali ke kota ini. Hanya hari ini aku nekad tanpa rencana mendatangi kota ini. Hanya untuk menemui seorang perempuan manis yang selalu membawa biola dan memainkannya dengan manis. Seperti orangnya.

***

Bandung mulai siang. Aku masih berjalan santai di jalan yang sedari pagi masih di jalan itu. Tidak jauh dari stasiun aku mampir di sebuah warung kopi sederhana dan menikmati siang di sana. Pada pemilik warung, aku tanyakan alamat yang kutulis dalam buku catatanku. Katanya, alamat ini tidak terlalu jauh, namun juga tidak terlalu dekat. Sekitar setengah jam perjalanan menggunakan jasa angkutan umum. Aku lega mendengar jawaban pemilik warung itu. Pikirku, aku akan tiba sebelum senja di rumah Diella, perempuan yang bermain biola.

Aku keluar dari warung kopi sembari menikmati matahari yang tetap sendu. Siang mulai beranjak pada sore dan aku langsung menuju alamat yang kubawa dan kucatat dengan angkutan umum. Di luar, terik matahari semakin sendu di setiap tubuh yang berjalan maupun diam. Kota ini indah dan sejuk meski matahari sedikit terik. Aku merasakan kesejukan itu di dalam bus yang membawaku. Bayangan perempuan itu pun mulai bermunculan di hadapanku. Ia seakan duduk di kursi lalu memainkan biolanya. Aku menyaksikan dan mendengarkan lengkingannya sembari tersenyum sendiri. Ia pun tersenyum sembari melanjutkan gesekan dawainya. Aku benar-benar takjub pada parasnya yang benar-benar manis, dan lengkingan biolanya yang lebih dari indah. Kahayalanku buyar ketika bus yang membawaku tiba di tempat tujuanku. Aku turun perlahan dan menatap matahari yang mulai sore.

Sekelilingku, lalu-lalang kendaraan yang melaju dan deru knalpot juga dering klakson beradu. Aku membuka catatanku, mencari nomor rumah di jalan itu. Sengaja aku tidak menggunakan peta yang terdapat dalam ponsel, aku ingin mencarinya sembari menikmati sore. Dengan lankah gontai kutelusuri jalan itu. Jalan yang sudah mulai lengang oleh sore. Itu artinya, senja akan segera turun di kota itu, pikirku. “Berarti, aku akan menemuimu saat senja sedang merah-merahnya, Diella,” gumamku.

***

Senja perlahan turun. Matahari memasrahkan diri pada langit sore. Aku masih berjalan santai menuju rumah yang telah kutemukan nomornya. Rumah di Jl. Pasirkaliki No. 25-27. Rumah itu sunyi, hanya pagar sederhana tanpa penjaga di dalamnya. Aku pencet bel di samping pagar itu, satu hingga tiga kali. Dengan sabar aku menunggu seseorang keluar dari rumah itu. Tiba-tiba dadaku berdegup dan berdebar kencang melihat pintu perlahan dibuka. Aku seakan tidak sabar menunggu siapa yang membuka pintu itu. Mataku tidak berkedip saat melihat sesosok perempuan membuka pintu dan berjalan menuju pagar, tempatku berdiri di depannya. Aku melihat jelas perempuan itu adalah kamu, Diella.

Ia bejalan pelan melewati halaman kecil menuju pagar. Aku tidak sabar melambaikan tangan dan memanggil namamu, nama perempuan yang bermain dan selalu bermain biola. Ia tetap berjalan santai, dan tiba di belakang pagar. “Diella. Kamu Diella, kan?! Perempuan yang bermain biola malam itu di kafe di Jakarta,” tanyaku tidak sabar. Ia menatapku seakan bingung dengan pertanyaanku. “Maaf, Akang cari siapa, yah?” tanyanya penuh kebingungan. Aku masih memaksakan diri meyakinkan dirinya, bahwa ia adalah kamu, Diella. “Ini rumah Diella, kan?!” tanyaku lagi tanpa menyadari wajah perempuan itu perlahan berubah. “Di sini tidak ada yang namanya, Diella, Kang,” jawabnya singkat dan lembut. Aku tidak percaya. Aku bertanya lagi dan bertanya lagi sampai ia yakin dan meyakinkanku. “Maaf, Kang. Tidak ada nama Diella di sini. Memang benar, empat tahun lalu di sini tinggal seorang perempuan guru biola. Tapi sekarang perempuan itu sudah pindah ke Eropa ikut suaminya dan melanjutkan kuliahnya di sana. Dan tak ada konser biola di Bandung malam ini, seperti yang diceritakan Akang tadi,” jelas perempuan itu dengan rinci. Aku terkulai seketika. Jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk bertemu seorang perempuan yang telah lama lahir dan hadir dalam khayalku.

Senja waktu itu seperti berubah menjadi sore yang sama sekali tidak ada keindahan pada warnanya. Semua berubah menjadi warna yang pudar seperti harapanku sore itu. Aku seperti seorang yang hilang ingatan tentang senja, juga tentang warna emasnya yang begitu indah. Tetapi aku tidak lupa akan wajah seorang perempuan yang bermain biola dalam khayalanku. Aku yakin ia benar-benar ada. Di kota ini. Sebab, aku telah membaca beberapa info tentang seorang perempuan pemain biola lengkap dengan ciri wajahnya yang manis. Perempuan itu ada di kota ini. Tapi entah di jalan dan nomor berapa ia tinggal.

Senja itu, aku tersesat pada warnanya yang semakin berkilau. Aku berjalan di jalan itu, jalan yang kuyakini akan menemukan kamu, Diella. Tapi aku hanya menemukan jejakmu. Jejak seorang perempuan yang bermain biola di rumah itu. Sedang kamu, entah di mana tinggalnya di kota ini. Aku tak ingin senja merenggut perjalananku. Akan kucari lagi nanti saat senja dan malam tak lagi bertemu.

 

Jakarta, 291217

Ilustrasi oleh Mak Tanti Amelia (http://www.tantiamelia.com/)

Sekolah Imajinasi di Belitung Timur

Sekolah bagi anak-anak tidak hanya jadi tempat belajar, tetapi juga bermain tanpa mengenal lelah dan waktu. Pelajaran terkadang menjadi hal yang tidak utama bagi anak-anak selain menikmati masa-masa indah yang tidak akan pernah kembali. Masa-masa itu hanya akan terekam dalam ingatan, imajinasi, dan suatu karya.

IMG20171213111834

Papan nama Replika Sekolah Laskar Pelangi. (foto dokpri).

Sekolah melahirkan beragam imajinasi, rasa dan perasaan, pikiran hingga kaum intelektual. Dari sekolah pula masa depan ditanam dan ditulis hingga diimajinasikan. Lewat imajinasi, sesuatu yang telah berlalu bisa dihadirkan dengan sesuatu yang sama meski tidak sama persis. Salah satu contohnya adalah Replika Sekolah Laskar Pelangi di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Bangunan sekolah tersebut adalah replika Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Gantong yang terdapat di Belitung. Sekolah tersebut dibangun atas pemilihan lokasi film Laskar Pelangi beberapa tahun lalu. Film Laskar Pelangi sendiri merupakan film yang diadaptasi dari salah satu tetralogi novel karya Andrea Hirata yang juga lahir dan besar di Belitung.

Replika sekolah Laskar Pelangi dibangun benar-benar mirip dengan sekolah yang diceritakan Andrea Hirata dalam novelnya. Sebuah bangunan tua yang terlihat kurang dirawat dan diperhatikan. Dindingnya dari papan yang sudah rapuhdan lusuh, atapnya dari seng yang karatan dan bangku serta kursi juga sama. Berlantai tanah dan berhalaman pasir putih bekas pasir penambangan. Semua itu berdasarkan cerita dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang kemudian diaplikasikan menjadi sebuah bangunan Sekolah Dasar Muhammadiyah Gantong, tempat Andrea Hirata dan teman-teman Laskar Pelanginya belajar dan bermain beberapa tahun silam.

IMG20171213113955

Ruang belajar Replika Sekolah Laskar Pelangi/SD Muhammadiyah Gantong. (foto dokpri).

Sekolah itu benar-benar mehghadirkan suasana beberapa tahun lalu saat Andrea Hirata dan teman-temannya menulis mimpi dan cita-cita ditemani guru terkasihnya, yaitu Ibu Muslimah.

Replika sekolah Laskar Pelangi ini memiliki daya tarik yang tinggi bagi wisatawan lokal dan mancanegara setelah diresmikan pada tahun 2010 lalu. Setiap hari pengunjung selalu ramai lebih-lebih pada akhir pekan. Tujuan wisatawan tidak lain hanya untuk melihat dan menyaksikan bangunan tua berupa Sekolah Dasar Muhammadiyah Gantong, yang kemudian bernama Replika Sekolah Laskar Pelangi. Sekolah itu lahir dari imajinasi yang kemudian dikenal oleh wisatawan sebagai lokasi wisata literasi.

IMG20171213113736

SD Muhammadiyah Gantong/Replika Sekolah Laskar Pelangi tampak dari halaman depan. (foto dokpri).

Setiap berkunjung ke replika sekolah itu, kita akan membayangkan semangat anak-anak Laskar Pelangi yang menanam mimpinya beberapa tahun silam. Seperti yang kami rasakan bersama awak media lain pada saat mengunjungi replika sekolah itu beberapa waktu lalu. Hamparan pasir putih dan pagar lusuh menjadi tanda akan kekuatan imajinasi dalam melahirkan dan menciptakan sesuatu yang mustahil pun. Lewat imajinasi itulah sekolah tersebut dibangun meski pada awalnya hanya untuk pengambilan lokasi shooting film yang diadaptasi dari novel Laskar Pelangi.

Lokasi replika Sekolah Laskar Pelangi berada di Lenggang, Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Tepat di pinggir jalan raya menuju Kota Manggar, kota yang dikenal dengan sebutan kota seribu warung kopi.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya dimuat di http://menara62.com/

Mengekalkan Pelangi di Pantai Tanjung Tinggi

Pelangi bagi sebagian orang adalah suatu pemandangan yang selalu dinanti. Selalu diabadikan dan dirindukan. Tetapi, bagi masyarakat Belitung, pelangi adalah sebuah kekuatan yang lahir dari warna yang kian hari kian mengabadi di hati mereka. Warna itu seakan-akan rentetan kata-kata yang tersusun menjadi puisi, menjadi cerita, bahkan menjadi sebuah kisah panjang yang tak pernah berujung. Seperti halnya laut yang sulit ditemukan ujungnya.

IMG20171211103425

Slah satu batu yang menjadi salah satu pengambilan gambar film Laskar Pelangi. (foto dokpri).

Lain lagi bagi Andrea Hirata, salah seorang novelis yang membawa nama tanah kelahirannya ke dalam dunia cerita dan menjadikannya sebuah jejak yang tak akan pernah terhapus oleh apapun. Jejak tersebut adalah sebuah karya berupa tetralogi dan salah satunya diabadikan menjadi nama beberapa tempat, salah satunya pantai Tanjung Tinggi.

Pantai Tanjung Tinggi adalah salah satu pantai yang terekam dalam salah satu novel Andrea Hirata, yaitu Laskar Pelangi. Dan di pantai ini juga salah satu adegan film Laskar Pelangi diambil sehingga pantai Tanjung Tinggi saat ini dijuluki pantai Laskar Pelangi. Bahkan nama Tanjung Tinggi sedikit tergeser ke bawah oleh nama Laskar Pelangi. Penduduk setempat lebih suka menyebut pantai tersebut pantai Laskar Pelangi dibanding nama aslinya. Itulah salah satu kekuatan kata-kata yang diabadikan dalam sebuah cerita dan menjadi sebuah nama yang abadi pula di hati masyarakatnya.

IMG20171211103605

Batu tempat anak-anak Laskar Pelangi menatap pelangi bersama. (foto dokpri).

Mengunjungi pantai Laskar Pelangi seperti mebuka kembali lembaran novel yang ditulis oleh Andrea Hirata. Begitu indah begitu nyata. Embusan angin dan debur ombak benar-benar menjadi jembatan bagi kata-kata dan cerita yang terus lahir lalu mengabadi. Batu-batu granit yang unik dan eksotis pun menjadi bumbu bagi kata-kata yang lahir dari rahim pantai itu.

Pantai Laskar Pelangi tidak hanya menjadi destinisi mata, tetapi destinasi kata-kata juga cerita.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya dimuat di http://sutera.id/

Di Kota Tua

Ada yang tengah duduk
Meminjam matahari yang karam
Dan mereguk gelisah

Ada yang tengah merajuk
Pada angin yang silam
Menyeduhnya menjadi pilu

Aku dan kamu
Memilin sore
Menuai senja yang bisu

Mereka melihat rindu
Yang rebah dan tabah
Di antara pukat matamu

Di kota itu
Jendela memaksa sore menjadi senja
Dan mengajakmu menjadi rindu.

Jakarta, 110817